PENERAPAN SISTEM TEKNIK ATAU MANAJEMEN

Standar

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA OLEH P2K3 UNTUK MEMINIMALKAN KECELAKAAN KERJA DI PT WIJAYA KARYA BETON MEDAN TAHUN 2008

Tugas review tentang penerapan sistem teknik atau manajemen

 

             Pembangunan nasional dewasa ini berjalan seiring dengan perkembangan industri yang pesat dan mandiri dalam rangka mewujudkan era industrialisasi yang ditandai dengan mekanisme, elektrifikasi, dan modernisasi. Dengan demikian maka terjadi peningkatan penggunaan mesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi modern dan berteknologi tinggi serta bahan berbahaya. Hal tersebut disamping memberikan kemudahan proses produksi dapat pula menambah jumlah dan ragam bahaya di tempat kerja. Selain itu akan terjadi pula lingkungan kerja yang kurang memenuhi syarat, proses dan sifat pekerjaan yang berbahaya, serta peningkatan intensitas kerja operasional tenaga kerja. Masalah tersebut akan sangat mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun tingkat keseriusan kecelakaan kerj. Untuk dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi yang tinggi, sangat tergantung kepada sistem manajemen yang diterapkan dan kualitas pekerja yang digunakan. Kualitas pekerja mempunyai korelasi yang erat dengan kecelakaan kerja sedangkan kecelakaan kerja erat kaitannya dengan produktifitas. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SMK3 ) mendapat perhatian yang sangat penting dewasa ini karena masih tingginya angka kecelakaan kerja. SMK3 bertujuan menciptakan sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Mengingat tingginya angka kecelakaan kerja di Indonesia, maka pemerintah mengeluarkan UU RI No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Pasal 87 UU tersebut mewajibkan setiap perusahaan menerapkan SMK3 sebagai bagian dari Manajemen perusahaan, dan bagi yang tidak menerapkannya akan diberikan sanksi. Selain itu, telah dikeluarkan pula PERMENAKER No. 05/ MEN/ 1996 tentang pedoman penerapan SMK3 dan parameter audit SMK3.
PT. Wijaya Karya Beton adalah perusahaan yang meproduksi beton pracetak seperti tiang listrik beton, tiang telepon beton, tiang pancang beton, bantalan jalan rel, bridge girders, PC-U girders, sheet piles yang digunakan dalam proses konstruksi jembatan, gedung, jalan raya serta berbagai infrastruktur lainnya. Dilihat dari jumlah pekerjanya PT WIKA BETON mempekerjakan 299 orang pekerja yang semuanya laki-laki dan dibagi atas 119 orang pekerja tetap dan 180 orang pekerja harian. Seluruh pekerja harian diatur oleh seorang mandor harian termasuk urusan pengupahan dan jaminan keselamatan dan kesehatan.Pekerja tetap terbagi atas 112 orang pegawai trampil yang dipekerjakan di semua seksi pabrik dan 7 orang tim manajemen yang terdiri dari 1 orang manajer pabrik, 5 orang kepala seksi dan 1 orang asisten kepala seksi. Pekerja harian ini bekerja sesuai permintaan barang dan dibawahi oleh mandor harian. Urusan yang menyangkut upah dan jaminan kesehatan serta keselamatan diurus secara terpisah oleh mandor harian. Perusahaan ini termasuk kedalam perusahaan besar dengan tingkat resiko tinggi. Ini terlihat dari proses produksinya yang banyak menggunakan mesin-mesin berteknologi tinggi sehingga menimbulkan potensi bahaya yang cukup banya dikarenakan PT WIKA BETON saat ini menghasilkan produk komponen beton pra cetak yaitu tiang pancang bulat dan tiang pancang segi tiga (60 – 70 batang / hari), bantalan jalan rel (500 batang / hari), CCSP (Corrugated Concret Sheet Piles) untuk tahanan tanah tepi pantai (20 buah / hari), I Girders untuk jembatan laying (3 balok / hari), U girders untuk jembatan(3-4 balok / hari), sheet piles (20 buah / hari), dan tiang listrik (60 buah / hari). Waktu kerja yang disediakan oleh PT WIKA BETON yaitu dengan membagi 2 shift kerja dengan waktu per shift nya yaitu 8 jam. Oleh karena itu, PT WIKA BETON perusahaan yang tergolong perusahaan besar dengan tingkat resiko tinggi memiliki perencanaan strategi K3 dimana pada tahun 1999 PT WIKA BETON SUMUT sudah mulai membuat rencana strategis K3 yang diterapkan untuk mengendalikan potensi bahaya di tempat kerja. Perusahaan juga sudah membuat manual SMK3 yang telah mencakup keseluruhan prosedur K3 di tempat kerja. Di tahun ini perusahaan juga sudah mempunyai prosedur terdokumentasi yang mempertimbangkan identifikasi bahaya dan penilaian resiko pada tahap melakukan perencanaan atau perencanaan ulang. Pada pelaksanaanya, kegiatan perencanaan dan perencanaan ulang hanya terbatas pada perancangan ulang dan modifikasi produk. Prosedur K3 serta instruksi kerja K3 yang dibuat dengan mempertimbangkan identifikasi bahaya dan pengendalian resiko telah mengalami beberapa kali revisi yait, pertama Mei 2002, tentang penggabungan nomor dokumen dan perubahan pembuat dokumen. Kedua Oktober 2004, tentang penambahan tujuan, ruang lingkup, ketentuan umum dan tanggung jawab serta perubahan nomor dokumen. Ketiga Desember 2006, tentang penambahan identifikasi bahaya pada proses pemindahan tulangan tiang pancang dan sheet piles dari workshop tulangan ke jalur produksi. Perusahaan sudah memiliki prosedur untuk memahami, mengidentifikasi peraturan perundangan dan persyaratan lain yang berkaitan dengan K3. Sekretaris P2K3 aktif dalam mengidentifikasi, menginventarisasi dan memahami peraturan perundangan, persyaratan serta informasi yang berkaitan dengan K3. Sebagai sarana penyebarluasan kepada tenaga kerja lain biasanya digunakan papan pengumuman yang secara rutin diperbaharui, biasanya 2 minggu sekali, namun dalam pelaksanaannya tidak seperti itu. Lamanya perbaharuan papan pengumuman bisa mencapai 2 sampai 3 bulan. Papan pengumuman diletakkan di 8 lokasi pabrik, yakni 1 buah didalam kantor, 1 buah didalam kantin, 3 di lokasi jalur / plant, 1 buah di stock yard 2 buah di workshop. Penerapan yng dilakukan oleh PT WIKA BETON SUMUT Sesuai dengan PERMENAKER No. 05/MEN/1996 pasal 3 point 1 tentang perusahaan yang wajib menerapkan SMK3 dan Lampiran IV PERMENAKER No. 05/MEN/1996 tentang kriteria audit SMK3 yang harus diterapkan oleh perusahaan, maka PT WIKA BETON SUMUT telah termasuk kepada perusahaan besar dengan tingkat resiko tinggi dan harus menerapkan 166 kriteria. Penerapan SMK3 di PT WIKA BETON sudah cukup baik karena Pedoman Penerapan SMK3 yang terdapat dalam Lampiran I PERMENAKER No. 05/MEN/1996 hampir seluruhnya diterapkan oleh PT WIKA BETON SUMUT. Ini juga terlihat dari hasil evaluasi dan audit SMK3 yang dilakukan oleh pihak internal maupun eksternal yang menunjukkan nilai yang baik setiap tahun. Hasil audit terakhir yang dilakukan oleh badan audit independent Sucofindo menunjukkan angka 97 % dan sesuai dengan Lampiran IV PERMENAKER No. 05/MEN/1996, PT WIKA BETON mengenai ketentuan penilaian hasil audit SMK3, maka PT WIKA BETON mendapatkan sertifikat dan bendera emas. Adapun enam kriteria yang masih dijumpai pada PT WIKA BETON SUMUT berdasarkan hasil audit Sucofindo 2008 adalah Penggunaan gelas bersama oleh karyawan yang terjadi di kantor dan di bagian produksi. Evaluasi setiap sesi pelatihan telah dilaksanakan mencakup evaluasi peserta dan penyelenggara pelatihan. Evaluasi program pelatihan belum dilaksanakan secara keseluruhan yang mencakup anggaran biaya dan realisasinya. Kecelakaan kerja yang terjadi pada tanggal 12 November 2007 belum dilaporkan ke Depnaker paling lambat 2 hari. Perusahaan telah melakukan pemeriksaan kesehatan karyawan, namun perusahaan atau dokter yang diberi tugas untuk pemeriksaan kesehatan belum memberikan analisa atas hasil pemeriksaan kesehatan untuk indikasi adanya penyakit akibat kerja. Contohnya pada hasil pemeriksaan terakhir menunjukka seorang dari pegawai di bagian spinning mengalami masalah pendengaran. pada ruang boiler dan genset terdapat 2 tangki besar biofuel dan solar, tetapi alat pemadam kebakaran yang tersedia hanya APAR (Alat Pemadam Api Ringan) berkapasitas 6 Kg. Perusahaan belum memiliki salinan yang menunjukkan bahwa klinik yang melakukan pemeriksaan kesehatan telah mendapatkan pengukuhan sebagai dokter pemeriksa / pekerja. Hasil penelitian menunjukkan seluruh responden (100 %) menyatakan bahwa pelaksanaan pengukuran dan evaluasi SMK3 dikategorikan baik. Pelaksanaan inspeksi K3 di perusahaan berjalan dengan baik, Setiap hari inspeksi untuk proses kerja atau sarana kerja yang memiliki potensi bahaya “A” dilakukan secara random dan seminggu sekali di inspeksi secara keseluruhan. Audit SMK3 internal juga telah dilaksanakan secara konsiten, bahkan telah menunjukkan peningkatan, yaitu di tahun 1999 – 2004 hanya dilakukan sekali setahun menjadi 2 kali setahun mulai tahun 2005 sampai sekarang.
Pelaksanaan audit dan inspeksi yang konsisten ini kemungkinan adalah penyebab baiknya hasil pencapaian perusahaan di audit eksternal sejak awal sampai sekarang. ini telah sesuai dengan PERMENAKER No.05/MEN/1996 Lampiran1 point 4 tentang pengukuran dan evaluasi. Tahun 1999 PT Wijaya Karya Beton mulai menerapkan SMK3, dan telah 4 kali melakukan audit SMK3 eksternal, yaitu tahun 1999, 2002, 2005 dan 2008. Dari 4 audit SMK3 yang dilakukan oleh badan audit Sucofindo ini, PT Wijaya Karya mendapat 4 kali sertifikat dan bendera emas. Selain audit SMK3 eksternal, PT Wijaya Karya Beton juga melakukan audit internal setiap 6 bulan sekali bersamaan dengan audit mutu internal (ISO 9001:2000). Dari hasil survei PT Wijaya Karya Beton diketahui bahwa selama periode penerapan SMK3 di perusahaan ini terjadi kecelakaan kerja pada tahun 1999 sebanyak 12 kasus, tahun 2000 sebanyak 11 kasus, tahun 2001 terjadi 9 kasus, tahun 2002 terjadi 9 kasus, tahun 2003 terjadi 7 kasus, tahun 2004 terjadi 4 kasus, tahun 2005 terjadi 2 kasus, tahun 2006 terjadi 4 kasus, tahun 2007 terjadi 3 kasus dan tahun 2008 sampai bulan Oktober belum terjadi satupun kasus kecelakaan kerja. Jenis kecelakaan kerja yang terjadi sejak tahun 1999 s/d 2007 umumnya adalah kecelakaan kerja ringan yaitu kecelakaan yang menyebabkan luka dan memerlukan perawatan medis sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan tidak lebih dari 1 (satu) hari. Dari data diatas diketahui bahwa angka kecelakaan kerja dari tahun 1999 s/d 2007 rata-rata melebihi sasaran keselamatan dan kesehatan kerja PT Wijaya Karya Beton Sumatera Utara, dimana jumlah kecelakaan kerja ringan yang ditargetkan per pabrik produk beton dalam setahun tidak lebih dari 2 kali kejadian dengan jam kerja hilang sebanyak-banyaknya 16 jam kerja/orang. Namun untuk tahun 2008, belum terjadi satupun kasus dan diharapkan dapat memperoleh Zero Accident.

Sumber :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14644/1/09E01016.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s