PERUNDANG DALAM LINGKUNGAN

Standar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ

Efek Produksi Kertas Bagi Lingkungan

Perusahaan pulp dan kertas bisa dibedakan karena pada faktanya dua industri tersebut tidak selalu tergabungmenjadi satu kesatuan. Proses produksi kertas terdiri dari lima tahap umum, yaitu persiapan bahan mentah, pembuatan pulp (pulping), bleaching, perbaikan kimiawi dan pembuatan kertas. Energi banyak digunakandalam bentuk panas selama proses pulping (digester, evaporator dan pencucian) ketika bahan mentah diprosessecara mekanis dan kimiawi untuk digunakan lebih lanjut dalam proses produksi. Misalnya di Amerika, proses pulping menghabiskan sekitar seperempat dari keseluruhan energi yang dibutuhkan untuk proses produksikertas [5].Pabrik kertas membutuhkan air dalam kuantitas besar dan menghasilkan limbah air mulai dari tingkat palingrendah yaitu 1,5 m3/ton kertas hingga sebanyak 60 m3/ton kertas yang diproduksi. Air limbahnya mengandungsuspensi padat, Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), warnanya coklatgelap karena keberadaan lignin dan mempunyai pH yang tinggi. Hal ini menimbulkan permasalahan apabilaair limbah tersebut masuk ke dalam aliran air. Produksi satu ton kertas menghasilkan rata-rata 1,5 hingga 50m3

limbah air, tergantung pada bahan mentahnya. Metode pengolahan air limbah secara konvensional bisamereduksi suspensi padat, BOD dan beberapa kadar COD tapi warnanya relatif tidak bisa dirubah karena tidakada biodegradabilitas dari lignin. Adanya senyawa organik terhalogenasi pada air limbah bersifat racun bagikehidupan akuatik. Metode pengolahan untuk menghilangkan warna misalkan dengan menggunakan adsorben(karbon aktif), koagulan (kapur dan tawas) dan agen bleaching (ozon) tidak begitu efektif atau ekonomis [4]. Industri kertas menghasilkan beberapa jenis limbah padat antara lain sludge, biosludge, dan pith. Sludgemerupakan limbah yang didapat dari proses pengendapan pada efflument tratment plant sehingga mengandung bahan organik yang berasal dari bahan baku pulp. Biosludge merupakan hasil samping dari efflument treatment yakni proses  biological aeration yang tersusun dari bahan baku pulp dan mengandung mikroorganisme sebagai efek dari biological aeration. Pith merupakan limbah dari proses depething plant yaitu proses pemisahan secara mekanik bahan baku pulp (antara bahan serat dan bukanserat) [3]. Di antara limbah padat tersebut, sludge merupakan limbah dengan volume terbesar. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan kertas, semakin tinggi pula limbah sludge yang dihasilkan. Sludge industri kertas merupakan lumpur aktif dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terdiri atas padatan 90% dan air 10%. Karakteristik sludge industri kertas antara lain lembek, strukturnya lunakseperti bubur, berwarna abu-abu keruh atau kehitaman, dan berbau tidak sedap. Seperti halnya limbah agroindustri lainnya, sludge merupakan limbah dengan kandungan senyawa karbon yang sangat tinggi. Limbah padat pabrik kertas juga mengandung unsur-unsur lain yaitu kalium, kalsium, magnesium, besi,dan sulfida yang merupakan hara untuk tanaman. Selain itu, limbah pabrik kertas umumnya mengandung logam-logam berbahaya seperti merkuri (Hg), tembaga (Cu), crom (Cr), timbal (Pb), seng (Zn), dan nikel(Ni). Polutan sisa produksi kertas bisa membahayakan kesehatan manusia dengan berbagai cara, diantaranyaadalah polutan tersebut diketahui atau diduga sebagai zat karsinogen, neurotoksin, pengganggu kerjaendokrin dan racun reproduktif. Polutan-polutan tersebut berkontribusi dan turut menyebabkan penyakit pernafasan dan kardiovaskuler, kelainan pada kulit, bahaya pada organ khususnya hati dan membahayakan sistem imun [1].Upaya untuk mengurangi efek negatif yang ditimbulkan dari adanya kebutuhan kertas bisa dilakukan olehsemua kalangan secara holistik, mulai dari pihak produsen kertas hingga pihak konsumen kertas. Pihak produsen bisa melakukan efisiensi produksi dalam hal penggunaan bahan-bahan produksi kertas, baik bahan mentah hingga bahan yang digunakan dalam proses finishing produksi. Pihak perusahaan juga bisamelakukan reduksi limbah yang dihasilkan agar tidak mencemari lingkungan. Riset-riset pabrik kertasmengenai efisiensi produksi dan reduksi limbah bisa dilakukan melalui kerjasama dengan para ilmuwanatau peneliti untuk melakukan riset dalam bidang tersebut. Sementara itu, pihak konsumen bisamengurangi efek negatif kertas dengan melakukan penghematan dalam penggunaan kertas dan menggunakan kertas seefektif mungkin.

Peraturan Perundangan Terkait

  1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945;
  2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046);
  3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);
  4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s