FIlsafat dan Ilmu Pengetahuan

Standar

بِسْــــــــــــــمِاللهِالرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــمِ

Definisi Filsafat

Dewasa ini nampak nya banyak para kalangan cendikiawan yang melihat fenomena keilmuan yang digeluti nya melalui kacamata filsafat, seperti kurang afdhol rasanya ketika tidak bisa menjelaskan segala sesuatu nya dengan akal logika. Kata filsafat itu sendiri datang dari Yunani, terbentuk dari dua susunan, filo yang bermakna cinta dan penggalan kedua sofia yang bermakna hikmah. Pengertian yang terbentuk dari paduan dua kata itu memang cukup menarik. Sebagian mendefinisikan sebagai upaya pencarian tabiat (karakter) segala sesuatu dan hakikat materi (hal-hal yang ada di dunia ini). Filsafat fokus pada pengerahan usaha dalam mengenali sesuatu dengan pengenalan yang murni. Apapun obyeknya, baik perkara ilmiah, agama, ilmu hitung atau lainnya.

Filsafat Ilmu

Filsafat memiliki cabang-cabang nya tersendiri sebagaimana disebutkan di atas bahwa objek filsafat adalah perkara ilmiah, agama, ilmu hitung atau lainnya. Filsafat ilmu merupakan bagian filsafat yang termasuk dalam kelompok perkara ilmiah. Filsafat ilmu ini telah banyak di istilahkan oleh para ahli, dan diantara yang mendefinisikan nya adalah :

Robert Ackerman Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

Lewis White Beck Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.

Cornelius Benjamin Filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.

 

Tujuan dari Filsafat Ilmu

  • Alat untuk menelusuri kebenaran segala hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah.
  • Memberikan pengertian tentang cara hidup dan pandangan hidup.
  • Panduan tentang ajaran moral dan etika.
  • Sumber ilham dan panduan untuk menjalani berbagai aspek kehidupan.
  • Sarana untuk mempertahankan, mendukung, menyerang atau juga tidak memihak terhadap pandangan filsafat lainnya.

 

Ruang Lingkup bahasan dari Filsafat Ilmu

Dimensi filsafat ilmu yang sering menjadi kajian secara umum yaitu meliputi tiga hal: dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Ketiganya merupakan cakupan yang meliputi dari keseluruhan–keseluruhan pemikiran kefilsafatan.

  1. Ontologi

Perkataan “ontology” berasal dari perkataan dari Yunani “ yang ada” juga berarti logos.[3], merupakan abang filsafat yang menggeluti tata dan struktur reslitas dalam arti seluas mungkin. da Ontology menggunakan kategori-kategori ada-menjadi , aktualitas- potensialitas, nyata-tampak, perubahan, eksistensi-non eksistensi, esensi, keniscayaan yang ada sebagai yang ada.

  1. Epistemologi

Istilah “epistemologi” berasal dari kata Yunani episteme = pengetahuan dan logos = perkataan, pikiran, ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja “epistemai”, artinya menunjukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengtahuan manusia. Epistemologi atau filsafat pengetahuan pada dasarnya juga merupakan suatu upaya rasional untuk meninbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan, sosial, dan alam sekitarnya. Maka, epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif dna kritis.

  1. Aksiologi

Aksiologi dalam fisafat ilmu berarti menyajikan hubungan antra etika dan ilmu, dimana etika sangat terkait hubungannya (inhaerent) dengan ilmu. Persoalan aksiologi adalah seputar bebas nilai atau tidaknya ilmu, hal ini merupakan persoalan yang rumit, tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki ilmu pengetahuan, pada umunya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.

 

DEFINISI ILMU

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab (‘alima) yang berarti mengetahui. Secara istilah ilmu adalah suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu (KBBI,1999). Menurut Mulyadhi Kartanegara ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan Sains tidaklah memiliki perbedaan, terutama sebelum abad ke-19.

Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli seperti yang dikutip oleh Bakhtiar tahun 2005 diantaranya adalah :

  • Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
  • Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan ke empatnya serentak.
  • Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
  • Harsojo menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan dan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia.

Berdasarkan definisi di atas terlihat jelas ada hal prinsip yang berusaha disebarkan dengan membedakan antara ilmu dengan pengetahuan. Menurutnya pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka (Supriyanto, 2003). Selanjutya kita lihat pengertian ilmu melalui sudut pandang yang berbeda, sudut pandang Islam dan para Ulamanya. Secara bahasa  اَلْعِلْمُ (al-‘ilmu) adalah lawan dari اَلْجَهْلُ (al-jahl atau kebodohan), yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dengan pengetahuan yang pasti. Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan dari al-jahl (kebodohan). Menurut ulama lainnya ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui. Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah apa yang berasal dari para Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang datang bukan dari seseorang dari mereka, maka itu bukan ilmu.” Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya.” Lebih jauh lagi Imam Asy-Syafi’I berkata dalam syair nya mengenai ilmu “Ilmu itu adalah Al-qur’an dan Al-Hadist dan ilmu Fiqh yang ada di dalam agama Ilmu itu adalah segala segala sesuatu yang bersumber dari keduanya (Al-qur’an dan Al-hadist) dan yang selain dari itu adalah bisikan-bisikan syaithan.” Jika melihat sekilas dari syair di atas maka akan menimbulkan kontroversi yang hebat, karena disebutkan bahwa segala sesuatu yang tidak bersumber dari Al-qur’an dan Al-hadist adalah bisikan-bisikan setan. Dalam menjawab pertanyaan ini diperlukan keimanan yang kuat agar menentramkan hati yang bersinggungan pendapat. Kita melihat, khususnya orang muslim yang memiliki keimanan tinggi bahwa dua sumber tadi merupakan induk dari segala ilmu yang ada di dunia ini. Semua itu bisa dibuktikan dengan beragam fenomena alam yang bersesuaian dengan apa yang digambarkan dan diramalkan pada dua sumber ini. Adapun beragam disipin ilmu yang ada saat ini seperti : kimia, fisika, matematika, biologi dan yang lainnya merupakan turunan dan pengerucutan ilmu yang dilakukan oleh manusia karena pengakuan akan terbatasnya kemampuan mereka.

SIFAT DAN CIRI ILMU

Suatu pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi syarat atau ciri-ciri tanpa menghilangkan keyakinan bahwa semua ilmu bersumber dari Al-qur’an dan Al-hadist, adapaun cirri dari ilmu tersebut adalah :

Ilmu pengetahuan Memiliki Objek Kajian

Suatu ilmu harus memiliki objek kajian, contoh ilmu matematika memiliki objek kajian berupa angka-angka, ilmu kimia memiliki objek kajian berupa zat-zat beserta sifatnya. Bagaimana dengan objek kajian biologi?

 Ilmu pengetahuan Memiliki Metode

Pengembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dilakukan secara asal-asalan, tetapi menggunakan cara atau metode tertentu. Metode yang digunakan itu bersifat baku dan dapat dilakukan oleh siapapun. Metode apakah yang digunakan untuk menemukan kebenaran secara ilmiah? Coba ingatlah kembali pelajaran tentang metode ilmiah !

Ilmu Pengetahuan Bersifat Sistematis

Dalam biologi, jika kita akan mempelajari tentang sel, maka materi yang akan kita pelajari perlu mendapat dukungan materi lain, misalnya tentang jaringan, organ, sistem organ, dan individu. Demikian pula sebaliknya, sehingga pengetahuan-pengetahuan itu tidak bertolak belakang. Ilmu pengetahuan bersifat sistematis adalah bahwa sebuah pengetahuan harus memiliki hubungan ketergantungan dan teratur, tidak boleh ada unsur-unsur yang saling bertolak belakang.

 Ilmu pengetahuan Bersifat universal

Apakah yang dimaksud dengan universal? Coba Anda ingat kembali tentang materi reproduksi yang terjadi pada makhluk hidup! Reproduksi seksual selalu dimulai dengan adanya pertemuan antara sperma dan sel telur. Anda pikirkan, apakah hal itu berlaku untuk semua jenis makhluk hidup? Jika benar, berarti ilmu itu berlaku secara umum atau bersifat universal. Jadi, kebenaran yang disampaikan oleh ilmu harus berlaku secara umum.

Ilmu pengetahuan Bersifat Obyektif

Bagaimana jika ilmu bersifat tidak objektif? Dapatkah ilmu itu dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia? Sebuah ilmu harus menggambarkan keadaan secara apa adanya, yaitu mengandung data dan pernyataan yang sebenarnya (bersifat jujur), bebas dari prasangka, kepentingan, atau kesukaan pribadi. Saat ini, ilmu biologi sudah mengalami perkembangan yang luar biasa.

Ilmu pengetahuan Bersifat Analitis

Ingatlah kembali pelajaran IPA saat Anda belajar di SMP/MTs! Jika ingin mempelajari struktur dan fungsi tumbuhan, maka Anda akan mempelajari bagian-bagian yang lebih rinci, yaitu akar, batang, daun, dan sebagainya. Itulah sebabnya kajian suatu ilmu dapat terbagi-bagi menjadi bagian yang lebih rinci guna memahami berbagai hubungan, sifat, serta peranan dari bagian-bagian tersebut.

Ilmu pengetahuan Bersifat verifikatif

Suatu ilmu mengarah pada tercapainya suatu kebenaran. Misalnya, teori tentangGeneratio Spontanea, menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang sudah diyakini kebenarannya, tetapi akhirnya teori itu digugurkan dengan teoriBiogenesis, menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup juga.

sumber :

http://tugasteknikmesin.blogspot.com/2011/12/definisi-ilmu-pengetahuan.html

http://www.modelstrend.com/2012/04/pengertian-filsafat-menurut-para-tokoh.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s